Mengapa lagu kebangsaan Prancis mirip lagu “Dari Sabang Sampai Merauke”

shares |

Wartaku.info - Sejarah. Mengapa lagu kebangsaan Prancis mirip lagu “Dari Sabang Sampai Merauke”, padahal Prancis tidak pernah menjajah Indonesia?. Sebenarnya ini adalah topik yang sudah lama sih, tapi masih asyik saja untuk dibahas.

Lalu bagaimana bisa R. Suharjo selaku pencipta lagu Dari Sabang Sampai Merauke bisa terinspirasi oleh lagu kebangsaan Prancis La Marseillaise, sedangkan Indonesia tidak pernah dijajah oleh Prancis? Berikut sejarah singkatnya.

Revolusi Amerika di tahun 1783 dan Revolusi Prancis di tahun 1799 secara langsung membakar semangat rakyat Belanda untuk juga menyuarakan demokrasi sebagai bentuk negara dan pemerintahan. Sebagai hasil dari pemberontakan tersebut, terbentuklah Republik Batavia, lalu menjadi Kerajaan Holandia di bawah administrasi Dinasti Bonaparte, hingga akhirnya wilayah Belanda dicaplok oleh Kekaisaran Pertama Prancis di bawah kepemimpinan Napoleon Bonaparte pertama pada tahun 1810.

Sementara itu, masyarakat Nusantara sudah berinteraksi dengan orang-orang Eropa, khususnya Belanda, sejak tahun 1602 melalui perusahaan dagang VOC. Awalnya VOC memberikan profit yang sangat besar untuk Kerajaan Belanda, namun karena perang berkepanjangan berkecamuk di negeri asalnya, VOC akhirnya bangkrut di 1799. Posisinya di Indonesia digantikan langsung oleh Pemerintah Belanda, sehingga Indonesia secara de facto menjadi tanah jajahan Belanda.

Mulai pusing? Kalau belum, mari kita lanjutkan.

Hindia Belanda resmi menjadi tanah jajahan Belanda di tahun 1800. Masih ingat kan di tahun yang sama Republik Batavia sedang berkuasa, dan diisi oleh orang-orang yang pro-Prancis. Sehingga tidaklah aneh apabila semangat Revolusi Prancis juga dibawa ke tanah Hindia Belanda.

Lagu La Marseillaise tercipta di tahun 1792 dan dua tahun kemudian langsung diadopsi sebagai lagu kebangsaan dan hal tersebut bertahan hingga sekarang ini. Sehingga wajar apabila lagu La Marseillaise turut ikut populer di Hindia Belanda atau Nusantara.

Singkatnya, lagu La Marseillaise atau lagu kebangsaan Prancis bisa ke telinga orang Indonesia melalui pemerintah Belanda yang saat itu sedang dalam kekuasaan pemerintah Prancis.

Karena lagu La Marseillaise memiliki struktur melodi yang bagus, tentu lagu tersebut tidak mudah untuk dilupakan begitu saja bagi siapa saja yang mendengarkannya. Nyatanya, lagu ini masih juga dinyanyikan meskipun Negara Belanda sudah tidak lagi di bawah kekuasaan Prancis.

Di akhir kependudukan Belanda di Indonesia, Belanda sudah memperoleh kemerdekaan dari Prancis. Tentu untuk menyanyikan La Marseillais harus secara sembunyi-sembunyi bila tidak ingin dicap sebagai penghianat.

Di buku Guru, Pahlawan Tanda Tanda Jasa yang diterbitkan oleh Departemen P&K di tahun 1980-an, terdapat kumpulan cerita nyata yang dialami oleh para guru dengan latar mulai pra hingga pasca kemerdekaan. Salah satu cerita yang pernah saya baca (semoga saja tidak salah) berjudul Guruku di Boven Digoel.

Cerita tersebut mengisahkan seorang guru dari Jawa di era pra-kemerdekaan, yang ketika waktu luang mengajarkan lagu La Marseillaise kepada para muridnya. Perbuatan tersebut dianggap sebagai penghianatan oleh pemerintah kolonial Hindia Belada, sehingga guru tersebut diasingkan ke Boven Digoel, Papua.

Dari kisah nyata tersebut bisa diambil kesimpulan bahwa lagu ini populer bahkan hingga di ujung waktu kekuasaan Belanda di Indonesia.

Kesimpulan:

Meskipun Indonesia tidak pernah berinteraksi langsung dengan Prancis, namun pengaruh Prancis masuk melalui orang-orang Belanda yang dahulu ada di Indonesia. Tidak hanya lagu La Marseillaise, banyak kosa kata dalam bahasa Indonesia berasal dari bahasa Prancis, seperti trotoar, sopir, sepeda, toilet, dsb.

Bagi yang ribut mempermasalahkan kemiripan Dari Sabang Dari Merauke dengan La Marseillaise, saya ingatkan bahwa Dari Sabang Dari Merauke bukanlah satu-satunya lagu yang terinspirasi dari indahnya melodi lagu kebangsaan Prancis. Coba juga dengarkan lagu All You Need Is Love dari The Beatles.

Nb: Artikel sebelumnya sudah dimuat di jawaban Quora

Related Posts

0 komentar:

Post a Comment