Ups! Keseringan Selfie Ternyata Bisa Menyebabkan Penyakit Mental

shares |

Wartaku.info - Warta Teknologi. Sobat warta suka selfie nggak nih? kalo iya mending - mulai sekarang kurang - kurangin deh karena ternyata keseringan selfie bisa bikin kita punya penyakit mental loh, nggak percaya? kalau begitu baca artikel ini sampai habis.

Self portrait is really a thing, kata ‘selfie’ sekarang sudah masuk dalam Oxford Dictionary. Tidak sampai disitu, selfie pun sudah menjadi kebiasaan tiap bertemu teman pasti langsung "kita selfie dulu"  ditambah dengan dengan adanya Instagram sebagai platform social media dengan fitur-fitur menggoda, lalu keluaran gadget selfie expert yang membuat selfie menjadi flawless dan memberikan kita kebebasan untuk memposting foto dimanapun kita berada.
Ups! Keseringan Selfie Ternyata Bisa Menyebabkan Penyakit Mental - wartaku.info
Ups! Keseringan Selfie Ternyata Bisa Menyebabkan Penyakit Mental
Pada beberapa kasus, ada orang yang bad mood karena selfie-nya tidak on point bahkan ada yang sampai frustasi karena sudah selfie puluhan kali tetapi tidak ada yang sesuai dengan yang diharapan. ‘Talk and food can wait but first lemme take a selfie..’ they said.

HATI-HATI! KESERINGAN SELFIE MENGAKIBATKAN GANGGUAN MENTAL!

25 Januari 2018, menurut laporan dari BBC seorang pria bernama T. Siva asal India tertabrak kereta karena selfie di dekat rel saat keretanya jelas-jelas sedang menuju ke arahnya. Selain itu sudah banyak kejadian mengenaskan yang terjadi karena selfie.

Sebagian orang menyalahkan kejadian - kejadian tersebut pada kemajuan teknologi, sisanya lebih menyalahkan pada kelalaian pengguna. Well, kemajuan teknologi itu adalah sebuah niscaya, karena kita dapat menentukan bagaimana cara menggunakan kecanggihan teknologi yang ada di depan mata. Ngomong-ngomong tentang selfie, sudah tahu belum kalau selfie bisa mempengaruhi kesehatan mental kita?

American Psychiatric Association pada 2014 lalu telah menggolongkan sikap obsesif selfie sebagai mental disorder, walaupun setelah itu mereka membantah dan menyatakan bahwa kabar tersebut adalah hoax.

Janarthanan Balakrishnan tahun 2017 seorang peneliti dari Thiagarajar School of Management India berusaha untuk menyempurnakan riset dari Dr. Mark Griffiths yang telah menggolongkan selfitis (sikap terobsesi dengan selfie) sebagai suatu masalah kesehatan mental yang digolongkan menjadi tiga level.

Ada yang namanya borderline selfitis, golongan ini adalah mereka yang menyukai foto minimal tiga kali sehari tidak mem-posting fotonya di social media, kemudian acute selfitis golongan yang minimal melakukan selfie tiga kali dan mem-posting semua fotonya di social media dan yang terakhir chronic selfitis adalah golongan yang setiap hari bisa melakukan selfie lebih dari enam kali dan juga sering mem-posting foto-foto selfienya di sosial media.

Alasan selfie sendiri ada bermacam - macam, ada yang selfie karena ada social competition misalnya seperti untuk pamer ke mantan atau temen kalau kita makin cakep, ada juga yang karena terobsesi sama selfie karena ingin diapresiasi golongannya dengan mem-posting wefie (selfie rame rame sama temen), dan sisanya lagi untuk seeking attention. Sebagaimana menurut Griffiths yang mengemukakan bahwa selfie didorong oleh lack of self-confidence dan keinginan untuk ‘fit in’.

Jadi tidak heran kalau para Psikolog selalu mengaitkan kebiasaan selfie dengan sikap narsis, self objectifying bahkan sampai apada taraf psikopat, karen bahkan konsultan Maudsley NHS Trust Dr. David Veale menggolongkan kebiasaan terobsesi selfie sebagai Body Dysmorphic Disorder (BDD). Body Dysmorphic Disorder (BDD) adalah sebuah kelainan yang dialami oleh seseorang yang selalu fokus pada kekurangan fisik dan menggunakan selfie sebagai suatu alat untuk membenarkan pikiran negatif mereka.

Related Posts

0 komentar:

Post a Comment